Selasa, 28 Oktober 2014

Kita memang "Belum Dewasa"



Kita memang tidak seperti “dulu” lagi.
Duduk bersama? Tertawa bersama? Saling menghina satu sama lain?
Lupakan!
Sekarang yang kita kerjakan adalah saling membuat status di jejaring sosial.
Berharap salah satu dari kita ada yang membacanya. Berharap ada salah satu dari kita yang merasakannya. Dan berharap ada salah satu dari kita yang merisaukannya.
Kita memang masih belum dewasa.
Kita selalu saja berharap ingin orang lain mengerti apa yang kita inginkan, kita rasakan tanpa ada usaha untuk menjelaskan dan coba mengerti keadaan orang lain.
Kita memang belum dewasa.
Dan lihat, tulisan ini adalah salah satu bentuk ketidakdewasaanku.
Berharap kalian membacanya. Berharap kalian mengeri tanpa ingin ku perbaiki keadaan yang memuakkan ini.
Aku rindu.
Rindu kebodohan kalian, tertawa bersama kalian, dimarahi tetangga bersama kalian, kelayapan malam tidak jelas bersama kalian, kalian juga bukan?
Maukah memperbaiki ini?
Ayo kita menjadi dewasa bersama-sama J

Minggu, 26 Oktober 2014

Pernahkah kita bertemu sebelumnya?



Kita memang harus sadar.
Atau berusaha menyadarkan diri.
Karena hidup tak semulus yang kita inginkan.
Karena orang-orang disamping tak akan ada selamanya.
Aku pernah mengalaminya. Sering mengalaminya.
Menyayangi orang begitu dalam dan tersakiti begitu dalam.
Biarkan aku berhenti.
Kita memang tidak pernah bisa memaksa tuhan menuliskan takdir sesuai keinginan kita.
Menjalani, mengikhlaskan, dan sabar.
Lalu apa lagi yang bisa ku lakukan?
Aku telah memilih menyayangi begitu dalam, dan bersiap-siap tersakiti begitu dalam.
Lalu kapankah kita bisa berbagi canda lagi? Berbagi tawa lagi?
Kapan?
Mungkin saat rasa sayang dan sakit itu telah kulupakan.
Dan saat itu aku akan bertanya, “Pernahkah kita bertemu sebelumnya?”

Selasa, 21 Oktober 2014

Bolehkah Aku Menangis?



Aku benci. Benci sekali jika harus kembali mengutak-atik keyboard yang membosankan ini. Karena setiap kali berhadapan dengan huruf-huruf yang tidak alfabetis ini, aku akan kembali meluapkan rinduku. Rinduku pada cerita kita. Makanan kesukaanmu, tempat yang ingin kau kunjungi, cita-citamu di masa depan, dan setumpuk prestasi yang ingin kau kejar.
Katamu jika aku lelah, boleh ku pinjam bahumu.
Katamu jika hidupku terasa berat, kau akan memikulnya untukku.
Katamu aku tidak boleh menangis tanpamu.
Sekarang aku lelah, sekarang hidupku terasa berat, bolehkah aku menangis?
bolehkah aku menangis?
bolehkah aku menangis?
Ku tanyakan sekali lagi, BOLEHKAH AKU MENANGIS?
Tanyaku pada kursi kosong yang baru saja kau tinggalkan.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Kamu (Lagi)


Dan nyatanya aku memang jatuh cinta.
Sudah berulang kali aku mengelaknya.
Tapi air mataku yang tumpah menolaknya.
Karena nyatanya aku rindu.
Rindu yang tak pernah bisa sampai ditelingamu.
Karena sekuat apapun aku berteriak.
Sekeras apapun ku coba untuk menghentak.
Kau tak merasa apapun.
Aku sudah merasakan ini berulang kali.
Tertawa berulang kali.
Dan menangis berulang kali.
Dan nyatanya kau tak pernah tau.
Senyum yang selalu kutujukan untukmu pun tak pernah kau hiraukan.
Secangkir teh yang selalu ku sajikan untukmu pun tak pernah kau cicip.
Adakah orang lain disana? Adakah sesuatu disana?
Coba balikkan pandanganmu. Coba lihat aku.
Tak cukup cantikkah aku? Tak cukup maniskah aku?
Aku sudah lelah. Lelah sekali.
Lelah meneriakkan namamu. Lelah merangkul cinta yang tak pernah kau sambut.
Cukup kau tau. Aku jatuh cinta. Masih padamu.

Minggu, 14 September 2014

Kosong

Nyatanya sekuat apapun kau menolak kekosongan itu.
Nyanyiannya tak pernah berhenti berderu.
Ia masih saja ingin membuktikan eksistensinya.
Bahwa ia ada.
Kekosongan itu ada.
Walaupun kau telah mencoba menolaknya dengan segala cara.
Membuatnya perlahan pergi, mengusirnya dengan lembut, bahkan berteriak dengan lantang.
Ia tetap membuktikan kalau dia ada.
Bahkan saat ini pun, saat kata ini terbaca kekosongan itu dengan segala eksistensinya kembali dengan lantang berteriak.
Meneriakkan keberadaannya.
Dan dia memang ada, ada disana.
Di hatiku.