Sabtu, 18 Oktober 2014

Kamu (Lagi)


Dan nyatanya aku memang jatuh cinta.
Sudah berulang kali aku mengelaknya.
Tapi air mataku yang tumpah menolaknya.
Karena nyatanya aku rindu.
Rindu yang tak pernah bisa sampai ditelingamu.
Karena sekuat apapun aku berteriak.
Sekeras apapun ku coba untuk menghentak.
Kau tak merasa apapun.
Aku sudah merasakan ini berulang kali.
Tertawa berulang kali.
Dan menangis berulang kali.
Dan nyatanya kau tak pernah tau.
Senyum yang selalu kutujukan untukmu pun tak pernah kau hiraukan.
Secangkir teh yang selalu ku sajikan untukmu pun tak pernah kau cicip.
Adakah orang lain disana? Adakah sesuatu disana?
Coba balikkan pandanganmu. Coba lihat aku.
Tak cukup cantikkah aku? Tak cukup maniskah aku?
Aku sudah lelah. Lelah sekali.
Lelah meneriakkan namamu. Lelah merangkul cinta yang tak pernah kau sambut.
Cukup kau tau. Aku jatuh cinta. Masih padamu.

Minggu, 14 September 2014

Kosong

Nyatanya sekuat apapun kau menolak kekosongan itu.
Nyanyiannya tak pernah berhenti berderu.
Ia masih saja ingin membuktikan eksistensinya.
Bahwa ia ada.
Kekosongan itu ada.
Walaupun kau telah mencoba menolaknya dengan segala cara.
Membuatnya perlahan pergi, mengusirnya dengan lembut, bahkan berteriak dengan lantang.
Ia tetap membuktikan kalau dia ada.
Bahkan saat ini pun, saat kata ini terbaca kekosongan itu dengan segala eksistensinya kembali dengan lantang berteriak.
Meneriakkan keberadaannya.
Dan dia memang ada, ada disana.
Di hatiku.

Rabu, 10 September 2014

Masih bukan surat cinta.


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Apa kabarmu?
Baik-baik sajakah?
Ku dengar dari burung pagi tadi, hatimu sedang disapu awan hitam.
Aku sedih mendengarnya. Jarak kita terlampau jauh untuk dapat ku buang awan hitam itu.
Tapi sudah ku kirim kembali burung itu untuk menyampaikan titipanku.
Sudah sampaikah? Sudahkah kau menimatinya?
Tadi ku kirimkan senyum termanisku pagi ini, tanpa pemanis buatan tentunya (Heheheh).
Ku kirimkan spesial untukmu (hanya untuk kamu).
Semoga sedikit meniup awan hitam itu.
Sudahkah kau merasa baikan? Aku tahu.
Walaupun telah ku kirimkan senyum terbaikku tidak akan menghilangkan awan hitam itu dengan cepat.
Ingat shalatmu, jangan lupa pada tuhanmu. Ia akan melindungimu dari apapun yang akan menggiring mudarat padamu.
Ingatlah selalu orang tuamu dan adikmu disini, mereka semua mendoakanmu agar lekas kembali dengan selamat sampai rumahmu.
Dan jangan lupa ingat padaku, tapi jangan terlampau sering, itu akan membuatmu kecanduan (Heheheh).
Baik-baiklah di tempat orang, lain kali akan ku kirimkan lagi senyum-senyum yang lebih banyak lagi.
Sehat selalu J
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Aku yang(masih) menunggu

10 September 2014
11.34 PM

Minggu, 07 September 2014

Kapanpun.



Kapanpun kau merasa langkahmu sudah terhenti. Lihatlah kebelakang, aku masih berdiri meneriakkan namamu.
Kapanpun kau merasa dunia semakin melelahkan. Berhentilah sejenak, bahuku masih lapang.
Kapanpun kau merasa mimpimu semakin jauh. Lihat baik-baik kedepan, senyumku belum pudar.
Kapanpun itu, aku ada.
Walapun kita masih di tempat duduk yang berbeda saat ini, kita bisa bersama kelak, di kursi yang sama.
You’ll find me.
Even if you can’t shouted my name, I can hear it :)


Jumat, 05 September 2014

Jatuh Cinta (Lagi)

Saya mau jadi penutup luka itu, bolehkah?
Ragunya, saya akan jatuh lagi. Tapi mau bagaimana lagi? Saya terlanjur jatuh.
Jatuhnya masih padamu.
Tapi takutnya, lebih sakit lagi nantinya.
Kamu sudah terlalu sering menitipkan rasa sakit padaku.
Rasanya sudah cukup sering.
Tapi, nyatanya saya masih jatuh.
Jatuh cinta padamu (lagi).

Kamis, 21 Agustus 2014

Jatuh banyak.



Hari ini air matanya tumpah banyak, banyak sekali.
Mawar saja tak tega melihat air matanya berjatuhan.
Ia mungkin terlalu lelah berdiri sendiri, coba kau berdiri disampingnya.
Mungkin sudah terlalu penuh, jadi banyak yang tumpah.
Mungkin sudah terlalu berkecamuk, jadi banyak yang berjatuhan.
Coba jatuhkan saja, tumpahkan saja.
Biarkan kering, tidak bersisa sedikitpun. Biar tidak jatuh lagi, tidak tumpah lagi.
Biarkan membasahi wajah, mungkin bisa sedikit menenangkasn.
Dia memang tidak perlu selalu tampak hebat.
Dia memang tidak perlu selalu tampak kuat.
Dia memang tidak perlu selalu tampak tegar.
Dia punya rasa, rasa sakit yang teramat dalam.
Jadi biarkan saja dia menjatuhkannya, menumpahkannya.