Senin, 03 November 2014

Tunggu atau tinggalkan :)



Biarkan aku diam beberapa saat.
Biarkan aku menyerap makna atas beberapa kejadian yang kembali membuat luka ini menganga.
Aku memang tak pernah berhasil mengatakannya dengan lantang, betapa rasa itu muncul begitu saja. Betapa menyebalkannya rasa itu menyusup disela-sela sarafku dan menghancurkan rentetetan kejadian yang harus ku ingat.
Aku selalu mencobanya tapi selalu saja berakhir menyakitkan. Lalu dimana letak kesalahanku?
Tidak peka? Cukup ku rasa. Aku hanya berusaha memadamkannya. Rasa itu.
Memanipulasi asumsi pribadiku yang selalu memaksaku memikirkan tentang “kita”. Selalu ku coba mematikan rasa itu sebelum ia tumbuh liar.
Bukan karena aku tak sanggup memeliharanya. Aku tak sanggup jika suatu saat nanti ketika ia sudah tumbuh dengan kuat kau memaksaku mematikannya.
Bukan karena rasa itu tidak ada. Hanya sedikit dipadamkan.
Akan ku katakan. Betapa besar rasa itu (pernah) ada atau (mungkin) masih ada.
Tunggu. Tunggu sampai hatimu betul-betul telah yakin memilihku.
Atau jika telah kau pastikan Aku bukan pilihanmu, maka tinggalkan Aku.

Karena kita tidak bisa memilih pada siapa kita jatuh cinta tapi kita bisa memilih pada siapa kita bertahan untuk mencintai.



Selasa, 28 Oktober 2014

Kita memang "Belum Dewasa"



Kita memang tidak seperti “dulu” lagi.
Duduk bersama? Tertawa bersama? Saling menghina satu sama lain?
Lupakan!
Sekarang yang kita kerjakan adalah saling membuat status di jejaring sosial.
Berharap salah satu dari kita ada yang membacanya. Berharap ada salah satu dari kita yang merasakannya. Dan berharap ada salah satu dari kita yang merisaukannya.
Kita memang masih belum dewasa.
Kita selalu saja berharap ingin orang lain mengerti apa yang kita inginkan, kita rasakan tanpa ada usaha untuk menjelaskan dan coba mengerti keadaan orang lain.
Kita memang belum dewasa.
Dan lihat, tulisan ini adalah salah satu bentuk ketidakdewasaanku.
Berharap kalian membacanya. Berharap kalian mengeri tanpa ingin ku perbaiki keadaan yang memuakkan ini.
Aku rindu.
Rindu kebodohan kalian, tertawa bersama kalian, dimarahi tetangga bersama kalian, kelayapan malam tidak jelas bersama kalian, kalian juga bukan?
Maukah memperbaiki ini?
Ayo kita menjadi dewasa bersama-sama J

Minggu, 26 Oktober 2014

Pernahkah kita bertemu sebelumnya?



Kita memang harus sadar.
Atau berusaha menyadarkan diri.
Karena hidup tak semulus yang kita inginkan.
Karena orang-orang disamping tak akan ada selamanya.
Aku pernah mengalaminya. Sering mengalaminya.
Menyayangi orang begitu dalam dan tersakiti begitu dalam.
Biarkan aku berhenti.
Kita memang tidak pernah bisa memaksa tuhan menuliskan takdir sesuai keinginan kita.
Menjalani, mengikhlaskan, dan sabar.
Lalu apa lagi yang bisa ku lakukan?
Aku telah memilih menyayangi begitu dalam, dan bersiap-siap tersakiti begitu dalam.
Lalu kapankah kita bisa berbagi canda lagi? Berbagi tawa lagi?
Kapan?
Mungkin saat rasa sayang dan sakit itu telah kulupakan.
Dan saat itu aku akan bertanya, “Pernahkah kita bertemu sebelumnya?”